
Aktris Ha Young menyampaikan permintaan maaf terkait kontroversi mengenai sejarah keluarganya.
Pada 12 Agustus, Ha Young mengunggah surat tulisan tangan melalui akun Instagram pribadinya. Ia meminta maaf atas kekecewaan dan luka yang muncul setelah terungkapnya aktivitas sang kakek buyut, Ahn Sang Ho.
Ha Young menjelaskan bahwa selama ini ia hanya mengetahui kehidupan kakek buyutnya melalui cerita keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, ia pernah menceritakan sosok tersebut sebagai bagian dari kebanggaan keluarganya tanpa mengetahui secara lengkap sejarah masa lalunya.
Setelah kontroversi muncul, Ha Young mengatakan bahwa ia mencari dan mempelajari berbagai materi terkait secara langsung. Dari proses tersebut, ia mengetahui bahwa Ahn Sang Ho tercatat memiliki aktivitas pro-Jepang pada masa penjajahan Jepang.
Ia mengakui bahwa dirinya salah karena membicarakan sejarah keluarganya tanpa terlebih dahulu memahami secara mendalam sejarah Korea pada masa kolonial Jepang.
Ha Young juga meminta maaf karena pada awal kontroversi, agensinya sempat merilis pernyataan yang menyebut pemberitaan tersebut “tidak berdasar.” Menurutnya, saat itu ia sendiri belum mengetahui fakta secara pasti, dan ia merasa bertanggung jawab karena informasi yang belum diverifikasi dengan cukup akhirnya disampaikan oleh agensi.
Ia juga menjelaskan bahwa dirinya terlambat memberikan pernyataan karena merasa sangat terbebani dan kesulitan menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan permintaan maaf mengingat seriusnya persoalan tersebut.
Ha Young menegaskan bahwa ketidaktahuannya tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan atau menganggap remeh sejarah tersebut. Ia berjanji akan mempelajari sejarah keluarganya dan periode tersebut secara lebih mendalam serta menunjukkan perubahan tersebut melalui tindakan.
“Saya akan membuktikannya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui tindakan.”
Kontroversi ini muncul setelah diketahui bahwa Ahn Sang Ho, kakek buyut Ha Young, tercatat sebagai salah satu anggota dewan organisasi pro-Jepang pada 1916.

